Bangkitnya Gerakan Anisisme


[PORTAL-ISLAM.ID]  Dalam dua bulan terakhir sejumlah meme, poster, maupun caption derma untuk mantan Presiden PKS Anis Matta banyak bertebaran di media sosial.

Potongan-potongan orasinya yang menggelegar, membangkitkan semangat, berseliweran di aneka macam platform media pertemanan.

Aksi para pendukung Anis Matta yang menyebut dirinya sebagai Anisisme alias “Anis Is Me,” mulai meningkat pasca DPP PKS mengumumkan sembilan nama bakal calon presiden (bacapres) PKS 15 Januari 2018 lalu. Anis termasuk satu diantaranya.

Mereka tidak lagi hanya bergerak di dunia maya, namun mulai merambah dunia nyata. Berbagai baliho, banner, maupun spanduk bertebaran di sejumlah kota, terutama di daerah Timur menyerupai Makassar, Banjarmasin, dan beberapa kota kecil lainnya. Dalam beberapa pekan terakhir walaupun skalanya masih kecil malah sudah mulai merambah kota-kota di Jawa Barat (Jabar) dan Madura.

Munculnya derma di dunia maya dan dunia konkret kepada Anis Matta sepertinya bakal mengakhiri “puasa” politik, sekaligus mengakhiri pengembaraannya di luar negeri. Pasca dilengserkan dari jabatannya pada awal Agustus 2015, Anis usang menghilang dari media dan sorotan publik.

Sesuai kiprah barunya sebagai Ketua Badan Kerjasama Internasional DPP PKS, Anis lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri, khususnya negara-negara di daerah Timur Tengah, Afrika Utara, Balkan, Turki, dan Malaysia. Dia juga beberapa kali kedapatan melaksanakan muhibah ke Rusia, terutama negara-negara pecahan yang penduduknya dominan beragama Islam.

Anis diketahui mempunyai jaringan yang sangat berpengaruh di negara-negara tersebut. Dia sering diminta memberi ceramah, terutama berkaitan dengan geopilitik global, sebuah bidang kajian yang sangat diminati dan dikuasainya.

Pengumuman bacapres PKS menjadi momentum bagi para pendukungnya untuk menarik pulang Anis dari pengembaraan di dunia internasional.

Bahwa Anis masih punya banyak pendukung yang militan dan loyal di internal PKS, bisa terlihat dari hasil pemilihan raya (Pemira) PKS untuk menentukan bacapres internal.

Dua tahun lebih menghilang, tidak mengurangi pengaruhnya. Anis masuk dalam tiga besar bacapres pilihan kader bersama Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dan Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nurwahid. Tiga nama tersebut alhasil ditambah sejumlah nama, termasuk Presiden PKS Sohibul Iman dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aldjufri. Maka jadilah sembilan nama.

Paling Diunggulkan

Bagaimana peta kekuatan Anis? Apakah sesudah sekian usang menghilang masih punya potensi untuk bertarung secara internal, maupun eksternal?

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, salah satu dari sembilan nama bacapres menjagokan Anis Matta dan Sohibul Iman sebagai capres yang akan diusung PKS. Mardani bahkan dengan tegas akan mendukung siapapun diantara keduanya jika sudah diputuskan oleh PKS.

Alasan Mardani sangat jelas, Sohibul yaitu Presiden PKS yang dikala ini tengah menjabat. Sementara Anis Matta kontribusinya tidak perlu diperdebatkan. Dia merupakan Sekjen PKS terlama, semenjak partai tersebut masih berjulukan Partai Keadilan (1998).

Anis menjadi Sekjen selama 15 tahun dan mendampingi empat orang presiden. Nurmahmudi Ismail dikala masih berjulukan Partai Keadilan, Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, dan Luthfi Hasan Ishaaq. Anis menjadi Presiden PKS ketika Luthfi tersandung kasus korupsi impor daging sapi (2013).

Kemampuan Anis mempertahankan PKS di tengah prahara korupsi impor daging, mengatakan kelasnya sebagai politisi jempolan.

Dia berhasil meningkatkan perolehan bunyi PKS di Pileg 2014, walaupun dari jumlah bangku menurun drastis. Padahal dikala itu banyak pengamat yang meramalkan PKS bakal terpuruk dan terlempar dari parlemen.

PKS yang tengah porak poranda, di bawah kepemimpinan Anis berhasil memenangkan pilkada di Jawa Barat dan Sumatera Utara (2013). Jabar merupakan provinsi terpenting sebab mempunyai jumlah pemilih terbesar di Indonesia. Sementara Sumut merupakan provinsi terpenting dan terbesar jumlah penduduknya di Sumatera. Oleh para pendukungnya Anis dijuluki sebagai “nahkoda di tengah badai.”

Kepiawaian Anis di dunia politik semakin mengatakan kelasnya ketika bersama Koalisi Merah Putih (KMP) berhasil menguasai bangku pimpinan di parlemen. Melalui seni administrasi politik yang rumit, KMP mengalahkan PDIP sebagai partai pemenang pemilu. Sebagai ganjarannya PKS menerima bangku wakil ketua dewan perwakilan rakyat dan wakil ketua MPR, padahal perolehan bunyi PKS hanya di peringkat ketujuh.

Melihat track record perjalanan politik Anis, masuk akal jika ia sangat dibanggakan oleh sebagian kalangan internal PKS. Anis berhasil mengatakan kelasnya sebagai solidarity maker, memimpin kader berani menengadahkan kepala di tengah prahara. Dia juga piawai menjalin kerjasama dengan partai-partai lain. Sebuah ketrampilan politik yang mutlak harus dimiliki seorang politisi, tapi tidak banyak dimiliki kader PKS.

Dengan syarat presidential threshold 20% (112 kursi) di DPR, modal 40 bangku PKS tidak cukup untuk mengusung sendiri capresnya. Mereka harus berkoalisi dengan partai lain. Saat ini PKS sudah mempunyai sekutu Gerindra (73 kursi). Total kedua partai telah mempunyai 113 kursi. Sudah bisa mengusung capres sendiri. Koalisi ini sangat mungkin diperluas dengan PAN yang mempunyai 49 kursi.

Dengan jumlah bangku yang lebih banyak, sangat masuk akal jika Gerindra tetap menghendaki posisi sebagai capres. Sementara PKS atau PAN menerima jatah sebagai cawapres. Sejauh ini Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto masih tetap dijagokan sebagai capres.

Sejumlah survei juga mengatakan Prabowo masih menjadi penantang potensial dari Jokowi. Namun melihat animo elektabilitasnya yang cenderung stagnan, banyak kalangan terutama simpul umat yang menginginkan biar Prabowo tidak lagi maju berlaga.

Untuk kepentingan yang lebih besar mereka mendorong biar Prabowo cukup legowo menjadi king maker. Tangan hambar Prabowo sebagai king maker telah terbukti setidaknya dalam dua palagan besar pilkada DKI (2012, 2017).

Hasil sejumlah survei juga mengatakan kendati lebih unggul dibanding Prabowo, elektabilitas Jokowi rata-rata hanya berkisar di angka 40%. Artinya ada sekitar 60% pemilih yang tidak menghendaki Jokowi terpilih kembali. Namun untuk mengalahkan Jokowi dibutuhkan figur baru. Umat dan oposisi butuh pilihan di luar Prabowo.

Hadirnya Anis Matta, Zulkifli Hasan, Anies Baswedan, Ahmad Heryawan, Tuan Guru Bajang, dan Muhaimin Iskandar menciptakan umat punya banyak pilihan, dan punya harapan. Mereka tinggal dicarikan pasangan yang tepat.

Banyak yang menyebut pasangan yang ideal yaitu kombinasi nasional-relijius, Sipil-militer, Jawa non Jawa. Silakan mulai dipasang-pasangkan, siapa yang kira-kira paling cocok dan berpotensi memenangkan pertarungan.

Penulis: Hersubeno Arief
Share Artikel:

Related Posts :